foto ilustrasi: Budaya Geudeu-geudeu. (ist)

Geudeu-geudeu lahir dari usaha mengasah ketahanan mental dan jiwa laskar kerajaan. Lamat-lamat olah raga adu fisik jadi tontonan umum

SIGLI – Budaya Geudeu-geudeu asal Pidie yang bisa dikatakan olahraga keras kini mulai punah. Padahal bila musim panen tiba kesenian geudeu-geudeu selalu ditampilkan. Selain, juga seni meugrop atau rapa’i geurimpheng pun terbilang hampir punah.

Hal ini membuat Ketua Majelis Adat Aceh (MAA) Kabupeten Pidie, Tarmizi Ismail cemas. Ia mengatakan, hal itu tidak bisa didiamkan saja mengingat dua adat budaya tersebut berasal dari Kabupaten Pidie dan sangat digemari oleh masyarakat Pidie itu sendiri.

Geudeu-geudeu merupakan adat yang menyerupai permainan olah raga yudo atau gulat, akan tetapi perbedaan geudeu-geudeu hanya pemainnya agak ramai. “Kami berupaya untuk melakukan seminar atau sosialisasi kepada masyarakat,” katanya kepada waratwan, Rabu (26/10/2016).

Tak hanya itu kata Tarmizi, hampir semua budaya Aceh dan Pidie khususnya mulai hilang di belantikan seni Aceh, seperti seudati, meurukon, seumapa dan banyak lainnya. Tentu saja merupakan tugas pemerintah juga MAA untuk melestarikan kembali budaya tersebut, sehingga generasi saat ini tahu adat budayanya.

Seperti melalui seminar atau Pedir Raya Festifal (PRF), yang dua tahun sekali digelar. “Harapan saya pada Pedir Raya ke dua nanti kita akan tampilkan semua budaya Pidie,” paparnya.

GEUDEU-GEUDEU

Geudeu-geudeu lahir dari usaha mengasah ketahanan mental dan jiwa laskar kerajaan. Lamat-lamat olah raga adu fisik jadi tontonan umum.

Di Pidie, dahulunya, ketika masa luah blang (pasca panen) atau saat purnama, geode-geude kerap dipertandingkan. Pemuda berbadan kejar berbondong-bondong mengikutinya, meski tak ada hadiah selain badan yang lembam.

Hadiahnya nyatanya sering tak berwujud, hanya sebuah kebanggaan belaka yang jadi pemuas bagi petarung yang menang. Adu fisik ini hanya sekedar pleh bren alias mengendurkan otot-otot yang tegang melalui pertarungan. Kebangkaan lainnya, sering pula dianggap perkasa dan menjadi lirikan ujung mata para gadis kampung.

Sebagai olah raga keras, petarung geude-geude harus memiliki ketahanan fisik dan mental yang kuat, tahan pukul dan bantingan lawan. Selain itu petarung geudeu-geude juga dituntut kesabaran dan ketabahan. Di sinilah emosi diolah. Bila emosi petarung tidak stabil, maka bisa berujung pada kematian.

Kesabaran para pemain diuji dengan berbagai lontaran kata-kata kasar dari para penonton. Karena itu pula, sepanjang sejarah pertarungan geudeu-geude, belum pernah terjadi pertarungan di luar arena. Artinya, sikap sportif para pemain sangat tinggi. Meski di arena mereka babak belur dan bonyok, tapi di luar arena itu dianggap sebagai sebuah kewajaran.

Akhir tahun 1980-an, geudeu-geudeu masih sering dipertunjukkan di Beuracan, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya. Biasanya pertarungan ini dibagi dalam dua katagori, yakni antar pribadi dan antar perwakilan kampung. Siapa pun boleh ikut, syaratnya berani dan mampu menahan pukulan serta hempasan lawan. (dari berbagai sumber/gr)

TINGGALKAN KOMENTAR