ANJUNGAN Sumatera Utara TMII senantiasa buat terobosan dalam bidang seni dan budaya. Terobosan kali ini yakni menggelar pameran sektsa Body Dharma di Rumah Melayu, Anjungan Sumatera Utara TMII, Jakarta Timur, Sabtu (22/8/2015).

tatan daniel dan body dharma
tatan daniel (kiri) dan body dharma (kanan) (ist)

Pameran ini  dibuka secara resmi  Wakil Ketua DPR,  Fadli Zon, sekitar pukul 16.00 WIB. Body Dharma adalah sketser kelahiran  Kayu Tanam, Sumatera Barat, anggota Sanggar Bambu Yogyakarta. Ratusan sketsanya dikoleksi oleh Fadli Zon. Ratusan lainnya telah dimuat dalam empat buku: “Alam Minangkabau” diterbitkan atas kerjasama dengan etnomusikolog Swiss, Bernhard B Batschelet, “Nagari Silungkang dalam Sketsa” (2004), “Getah Susu yang Membawa Berkah”, dan “Sawah Lunto dalam Irama Garis” (2007), yang memuat 120 sketsa tentang kota Sawahlunto, diterbitkan oleh Pemerintah Kota Sawahlunto.

ALAM TERKEMBANG JADI GARIS

“Sebagai even khusus, Anjungan Sumut Tmii akan menggelar hajatan Pameran Sketsa seorang sketser Indonesia, Body Dharma, pada Sabtu, 22 Agustus 2015, pukul 16.00, dengan tajuk “ALAM TERKEMBANG JADI GARIS”. Alam, sang guru, negeri tumpah darah, Indonesia Raya, yang darinya kearifan bertolak dan merujuk.

sketsa ronggeng melayu deli
sketsa ronggeng melayu deli (body dharma)

Body Dharma, yang lahir di Kayu Tanam, 4 Desember 1955, adalah satu diantara sedikit perupa Indonesia yang konsisten menekuni seni sketsa. 40 tahun ia mengembara, dari titik ke titik, melintasi titian garis, mengikuti takdir titik dan garis. Ribuan momen. Ribuan helai. Hitam dan putih. Mengelana di berbagai negeri.

Body yang pernah bergabung di Sanggar Bambu bersama Soenarto Pr ini, dan pernah berpameran di Jogjakarta (1976), Jakarta Desain Center (1990), Moorees Gallery, Perth, Australia (1998), Pameran tunggal di Taman Budaya Padang, Pameran tunggal di Indigo Gallery, Kemang, Jakarta (2003), dan Benteng Fort de Kock, Bukit Tinggi (2004). Ratusan karya sketsanya yang indah pun termaktub sudah dalam empat buku. Yang pertama, “Minangkabau Album” (2003), buku yang diterbitkan bersama Beerhard A. Batschelet, seorang etnomusikolog asal Swiss.

Bagi Anjungan Sumut TMII, adalah kehormatan dan kebanggaan bisa menampilkan seorang Body Dharma, yang dengan kecermatan dan kepiawaiannya telah mendokumentasikan berbagai ceruk kota Sawahlunto dalam buku “Sawahlunto’s Expression in the Rhythm of Strokes” (2007). Juga khazanah Silungkang dalam “Nagari Silungkang in Sketches” (2004).

Pameran tunggal kali ini, setelah pameran di Indigo Galery (2003), akan memamerkan sekitar 80-an sketsa terbarunya tentang keindahan arsitektur rumah-rumah adat dan berbagai aktivitas budaya di Taman Mini Indonesia Indah,  dimaksudkan sebagai bagian dari renungan, dan perjalanan kultural beliau tentang Indonesia, setelah percakapan yang intens dengan penyair Hamid Jabbar, sepuluh tahun yang lalu.

Pameran yang langka dan istimewa ini akan dibuka  oleh Fadli Zon, kolektor lebih 200-an sketsa Body Dharma, sebagai penghormatan untuk perjalanan kesetiaan. Pada kebersahajaan. Pada kejujuran. Sekaligus pula perayaan pada ke-Indonesia-an, semangat yang meneguhkan Body Dharma, alumni sekolah kebangsaan INS Kayu Tanam, merekat segenap ikhwal Indonesia melalui sketsa.

Anjungan Sumatera Utara dengan menyusun sepuluh jari, mengundang para Sahabat, untuk berkenan hadir merayakan acara pembukaan Pameran Sketsa Body Dharma, Sabtu petang, tanggal 22 Agustus 2015 besok, di Rumah Melayu, Anjungan Sumatera Utara TMII, Jakarta. Seraya meneguk hangat semangkok kopi Sidikalang, dan menikmati alun biola Handy Putra dan suara alam dari Syahrani yang lamat-lamat melantunkan ‘Indonesia Subur’ yang dicipta tahun 1925 oleh Mohammad Syafe’i, sang guru nasionalis pendiri INS Kayu Tanam..

Bersama dengan Fadli Zon, pecinta seni/Wakil Ketua DPR RI, yang akan membuka secara resmi pameran, kita menyaksikan karya seni sketsa Body Dharma yang merekam pelbagai aktivitas kebudayaan di seputar Ibukota Republik dan TMII.. Dari Indonesia kecil, menuju Indonesia Raya, cita-cita perjalanan Body Dharma mengharungi Indonesia, dan mengabadikannya dalam buku sketsa 1000 halaman..” (gr)

Ilustrasi kolekasi skesta Body Dharma (ist)

TINGGALKAN KOMENTAR