Foto: Sudut Benteng Oranje (Ichwan Azhari)

TERNATE – Kemarin Selasa 5 September 2017 saya berada di Fort Melajo kota Ternate, Maluku Utara. Masyarakat Ternate menyebutnya Benteng Melayu mengikut nama yang diberikan Portugis karena benteng di bangun di kawasan orang Melayu saat itu. Belanda yang mengambil alih dan membangun bekas benteng Portugis itu kemudian menamakannya Fort Oranje.

Benteng Melayu, nama ini terasa penuh ironi, benteng yang dibangun di permukiman dan pusat niaga kuno, jejak kejayaan orang Melayu di kampung Melayu Ternate. Pemerintah Indonesia atas nama pariwisata, lebih menyukai nama Belanda Fort Oranje dan mengabaikan nama setempat sebagai Benteng Melayu : mungkin karena orang Melayu pun sudah hambus dari Ternate dengan segala kekalahan dan kemundurannya.

Saat saya datang di Ternate (Ahad, 3.9.2017) saya mencoba mencari cari jejak Melayu di Ternate sebelum kuasa barat (Portugis, Spanyol, Inggris, Belanda) datang mencabik cabik benua rempah rempah yang mengguncang sejarah dunia ini. Orang Melayu dari Sumatra dan terutama Malaka, merupakan peniaga peniaga tangguh berdampingan dengan saudagar China, Arab, India, Jawa yang menjadi agen meyebarnya aroma rempah Maluku ke berbagai penjuru dunia.

Dalam sumber sejarah lisan setempat , Sultan Ternate menyenangi saudagar saudagar Melayu yang sekalian membawa dan menyebarkan Islam ke Ternate dan kawasan Maluku lainnya. Bahasa Melayu Ternate (juga bahasa Melayu di kawasan Timur Indonesia) lahir dalam proses perniagaan dengan orang orang Melayu ini. Sebagai komunitas dagang, mereka mendirikan kampung Melayu.

Belanda mendirikan benteng sebagai pusat pertahanan merangkap pusat niaga, politik dan militer yang ujungnya menguasai seluruh Indonesia. Benteng ini didirikan dengan menggeser kampung Melayu sekaligus juga menggeser dan merampok kejayaan peniaga peniaga Melayu yang berbilang abad membuka poros dagang Ternate – Malaka.

Benteng Melayu Belanda berdiri kokoh, peniaga Melayu tercampak, di negerinya di Melayu (Sumatra dan Semenanjung Malaya) pun mereka tercampak dari tampuk kejayaannya sebagai peniaga yang ulung. Lalu mereka menjadi pemuja, menjadi bagian dari, atau bersimbiosis dengan, kuasa barat yang menghancurkan memori mereka sebagai peniaga peniaga ulung. Generasi muda Melayupun perlu diinsyafkan tentang kejayaaan dunia Melayu pada kurun niaga ini. Saya termenung di benteng Melayu Ternate ini mengenangkan lenyapnya memori sejarah kejayaan kurun niaga Melayu.

Juga hari itu saya tak bisa memendam rasa kecewa karena sekitar 20 an meter bentengnya runtuh oleh kecerobohan pekerjaan pembangunan saluran air milik pemerintah kota Ternate. Sekalipun terlambat, nampak mulai ada upaya Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB Maluku) bertindak dan memberi respons atas robohnya sebagian benteng Melayu ini.

Situs situs sejarah seperti ini mampu menjadi sumber inspirasi dalam menoleh ke kinian. Dari istana sultan Ternate saya melihat laut yang indah, selat Ternate-Halmahera itu dan membayangkan ratusan kapal hilir mudik mengangkuti rempah rempah berabad lamanya. Kini mata saya tertumbuk pada brand niaga besar di dekat pantai, yang kelihatan jelas dari teras depan istana Sultan Ternate : HYPERMARK. Kota ini pun mulai dikepung oleh berbagai outlet, restoran dan minimarket asing. Kuasa VOC baru segera menyergap seluruh kota, tanpa perlu benteng seperti dulu lagi.

Saya jalan ke sana kemari tanya sana sini (sambil cari manik manik dan uang kuno), tapi ceceran kejayaan peniaga Melayu tidak saya temukan. Nama kampung Melayu berganti menjadi nama kampung Makassar, tapi kampung Makassar pun nampak “porak poranda”, aromanya lebih nampak sebagai kampung penjual produk asing. Ternate, sama seperti wilayah Indonesia lainnya, sedang dalam proses penaklukkan kuasa niaga luar yang lebih parah dari era VOC. Takluk tanpa perlu kuasa asing mendirikan benteng lagi, bentengnya sudah tersedia, kokoh : bentengnya adalah kelemahan dalam diri bangsa ini sendiri. (Ichwan Azhari).

TINGGALKAN KOMENTAR