Foto: Sungai Martapura di Kota Banjarmasin, Kalsel. (ist)

BANJARMASIN – Sejak tiga tahun lalu Kota Banjarmasin bertekad menjadi kota degan sungai terindah se-Indonesia. Keinginan itu bukanlah siapan jepol belaka. Sebab, Kota Banjarmasin telah dikenal luas dengan julukan Kota 1000 Sungai.

Julukan itu bukanlah gagah-gagahan, tapi merujuk pada banyaknya jumlah sungai yang membelah daratan Kota Banjarmasin. Selain itu, konfigurasi alam yang unik ini jika dilihat dari udara justeru memperlihatkan wilayah Kota Banjarmasin seperti kumpulan pulau-pulau kecil yang disatukan oleh sungai.

Banyak kalangan yang menilai bahwa keunikan konfigurasi dan karakteristik alam khas Kota Banjarmasin yang banyak dialiri sungai dengan berbagai ukuran, tidak dimiliki oleh kota manapun di dunia ini, merupakan modal besar bagi pembangunan jangka panjang dan apabila komitmen tata kelola dan proses eksploitasinya bisa dilakukan dengan baik dan benar.

Untuk bisa mencapai impian itu, maka Dinas Pariwisata Kota Banjarmasin mengoptimalkan dan mengembalikan kejayaan sungai Martapura yang membela Ibukota provinsi Kalimatan Selatan itu.

“490 tanun yang lalu kota Banjarmasin terbentuk dari pinggiran sungai. Sebagaian besar kehiudpan sungai Banjarmasin adalah kehidupan yang berbudaya sungai. Karena itu, salah satu yang kita hidupkan kembali sejak tiga tahun yang lalu adalah dengan menghidupankan transpotasi sungai dengana menghidupankan kapal klotok kecil,” Kepala Bidang Pariwisata Disbudpar Kota Banjarmasin, Khuzaimi, saat dihubungi, Rabu (6/9/2017).

Khuzaimi mengatakan, bahwa kapal-kapak klotok kecil itu diberikan fasiltas oleh dinas Pariwisata Kota Banjarmasin. “Mereka kita berikan paket-paket wisata yang mengelilingi kota Banjarmasin dan kota sekitarnya,” ucapnya.

Tidak hanya itu kata Khuzaimi, bahwa setiap hari Sabtu dan Minggu ditampilkan Pasar Terapung Banjarmasin secara gratis bangi masyarakat yang hendak berkunjung.

“Yang dijual di Pasar Terapung Banjarmasin adalah khas Banjarmasin seperti sayaur-sayuran dan buah-buahan. Makanan non tradisional dan modren tidak diperbolehkan dijua di Pasar Terapung,” katanya.

Masyarakat, lanjutnya, sangat menyambut digeberkanya pariwisata yang berbasis sungai. “Hal itu terlihat adanya komunitas peduli sungai oleh masyarakat. Mereka bersama Pemefrintah Kota menjaga kelestarian. bersihan dan keindahan sunagi yang ada di Banjarmasin,” ungkapnya. (gr)

TINGGALKAN KOMENTAR