KELESTARIAN hutan mangrove yang ada di daerah pesisir pantai Pantai Cermin, Serdang Bedagai, Sumatera Utara kondisinya saat ini sudah mulai terancam keberadaannya. Hal inilah membuat Lembaga Kajian Kebudayaan (LKKI) Serdang Bedagai, Sumatera Utara melakukan penanaman kembali hutan mangrove yang suduah terncam.

“Kami bersama masyarakat tani dan nelayan yang ada di Pantai Cermin cukup prihatin dengan semakin gundulnya hutan mangrove. Jika tidak dilakukan penamanam kembali, maka tergerusnya kawasan pantai akibat terjangan ombak,” kata Ketua LKKI Serdang Bedagai, Baizuri Bai, Senin (21/3/2016).

Bazuri menegaskan, semakin tergerusnya kawasan pantai akibat terjangan ombak, hal itu lantaran akibat utama dari penggundulan hutan mangrove adalah abrasi pantai. Selain itu, penggundulan hutan mangrove mengganggu keseimbangan ekosistem ikan laut.

Sebenarnya, mangrove dapat di konversi dalam penggunaan lain, selama proporsinya tepat dan tak mengancam keberadaan mangrove. Perubahan kawasan harus sesuai dengan persyaratan ekologis tumbuhnya mangrove. Suatu contoh, misalnya, sebagai lahan pariwisata, tempat berburu, memancing, berlayar, berenang, dan melihat berbagai atraksi satwa,” beber Baizuri.

Untuk itu, Baizuri menegaskan, perlu adanya peran serta pemerintah dan masyarakat untuk melindungi hutan mangrove di kawasan pesisir pantai di wilayah Paser. Pria yang tergabung dalam lembaga swadaya masyarakat peduli lingkungan pesisir itu mengatakan, di beberapa wilayah ancaman abrasi sudah mulai nampak. Seperti di Desa Labuang Kallo dan Air Mati. “Jika semua ikut bertanggung jawab, abrasi di kawasan itu tidak akan terjadi,”  tuturnya.

Untuk merawat dan menggembangkan hutan mangrove yang sudah gundul bukanlah pekrjaan mudah. Bazuri dan kawan-kawan saat ini membutuhkan dana dari simpatisan dan donator juga pemerintah. “Pekerjaan kami cukup banyak. Tidak saja menjaga hutan magrove dari tangan-tangan manusia. Juga menanam dan merawat kembali hutan mangrove sudah rusak,” tegasnya.

Hutan Mangrove, lanjut Baizuri, kelak tidak saja mengurangi abrasi pantai, tapi juga bisa dimanfaatkan buat pariwisata. “Ya. Kami ingin membangun mangrove secara modren. Tapi kami saat ini masih membutuhkan uluran tangan dari berbagai pihak,” tegas Baizuri. (gr)

TINGGALKAN KOMENTAR