03-AYU LAKSMI-5

AYU LAKSMI sukses menggelar ‘Live Theatrical Music Performance, Svara: Love@1point, Sabtu (22/2/2015) malam di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ). Pangelaran tersebut merupakan promo peluncuran album terbatunya, ‘Svara Semesta 2’.

Ada banyak cinta yang diberikan Tuhan bagi umat manusia, . Alam dan semua isinya, kata Ayu. Cinta ini yang kemudian memberikan semangat dalam menempatkan cinta pada satu titik.

Makna cinta inilah yang akan ditampilkan dalam konser yang bertajuk “Live Theatrical Music Perfomance Ayu Laksmi – Svara Semest: Love @1Point.” Komposisi pertunjukan musik dibangun dari lagu-lagu Ayu yang terangkum dalam album Svara Semesta yang diluncurkan pada 2010 lalu dan Svara Semesta 2 ini.

19-AYU LAKSMI-2

“Jadi album Svara Semesta 2 ini lanjutan dari rangkaian kisah Svara Semesta sebelumnya,” kata Ayu.

Selain mengawinkan paduan bunyi tradisional dan kontemporer, perempuan 47 tahun ini pun mengaransemen musik bersyair sastra kuno dan modern. Sesuai dengan genre-nya, musik dalam album Ayu meleburkan khazanah musik populer dan klasik dengan sentuhan elemen etnik.

Terdapat total tujuh lagu dalam album ini yang mengeksplorasi beragam unsur seni, dari musik, sastra, hingga bahasa. Ayu menyuguhkan lagu dengan berbagai bahasa yaitu Indonesia, Minang, Inggris, Latin, dan Jawa Kuno.

11-AYU LAKSMI-4

Ayu berbicara mengenai sebuah tema besar dalam setiap lagu yakni perempuan. Ia menjelaskan, akar kata perempuan adalah “empu” yang artinya pelayan atau pengasuh. Saat berbicara tentang perempuan, tidak akan pernah lepas dari ibu. Sosok yang berperan penting dalam kehidupan setiap manusia.

“Kalau kita sekarang bawa ke dalam pemikiran yang realis, kita lupa akan Ibu Pertiwi kita. Hanya lebih banyak mengeksploitasi. Ini semua hubungannya kepada Ibu Pertiwi,” papar
Ayu.

“Temanya bukan perempuan gender tetapi sifat-sifat perempuan. Jadi, kita semua memang harus kembali kepada sifat-sifat perempuan. Sifat yang melayani.”

Lewat lirik dan penggarapan musik dalam album ini, Ayu menggali sifat-sifat perempuan dan mentransformasikannya ke dalam peristiwa kekinian yang relevan. Lagu Daima, misalnya, menggambarkan tentang kerinduan pada kekuatan sosok ibu yang telah tiada. (gr)

Foto-foto: Dudut Suhendra Putra

TINGGALKAN KOMENTAR