Tabuh besar bernama Dhol saat dimainkan (didi yoyong)

MASUKNYA bulan muharam atau tahun baru Islam, sebanyak 17 kelompok keluarga keturunan pewaris budaya Tabot Bengkulu mempersiapkan bangunan tabot atau keranda setinggi 7,5 meter.

Tabuh besar bernama Dhol saat dimainkan (didi yoyong)
Tabuh besar bernama Dhol saat dimainkan (didi yoyong)

Budaya Tabot bagi masyarakat Bengkulu disambut dengan kemeriahan pesta selama 15 hari, para pewaris keturunan tabot melaksanakan ritual sakral sejak tanggal 28 Zulhijah atau 2 hari sebelum tahun baru Islam 1 Muharam dengan menggelar zikir di makam Imam Senggolo atau Syekh Burhanuddin di kawasan Karabela Kota Bengkulu.

Salah seorang pewaris keturunan Tabot, Adil Kurniawan menjelaskan, setelah berzikir pada 28 Zulhijah keesokan harinya digelar acara doa selamat memasuki tahun baru Islam, pada malamnya mereka menggelar prosesi mengambil tanah, ini merupakan tanda dimulainya ritual selama dua pekan.

Tanah yang diambil di dua lokasi yaitu kelurahan Anggut Bawah dan dan Kelurahan Tapak Paderi, dua kepal tanah sebagai perlambang potongan tubuh Imam Husein Cucu Nabi Muhammad yang gugur di Padang Karballa dimasukkan ke dalam keranda kecil berbentuk peti jenazah.

“Ada 2 kelompok keluarga pewaris bdaya tabut yaitu keluarga Imam Senggolo berjumlah 9 kelompok dan keluarga Bansal sejumlah 8 kelompok,” ujar Adil disela sela membuat bangunan Tabot setinggi 7,5 meter di Bengkulu.

Prosesi ritual dilanjutkan pada tanggal 4 dan 5 Muharam dengan membawa benda benda pusaka diantaranya, Penja atau benda berbahan kuningan berbentuk tangan lengkap dengan 5 jari, keris, terompet dan ratusan benda pusaka lain ke rumah batu atau biasa disebut ‘Gerga”. Setibanya di gerga, benda benda itu dicuci dan didudukan pada tempat yang sudah disiapkan.

Tabot Bengkulu (didi yoyong)
Tabot Bengkulu (didi yoyong)

Pada malam tanggal 6 dan 7 Muharam, keluarga pewaris tabot akan saling mengunjungi dengan membawa alat tabuh besar bernama Dhol, gendang kecil yang disebut Tassa dan panji panji kebesaran, suasana berjalan malam ini terlihat seperti peperangan antar kelompok, sebab sambutan yang disajikan para kelompok yang didatangi selalu dengan tabuhan dhol bersuara sangat kencang dan diselingi semburan api dari obor.

Puncak kegiatan dilakukan pada malam tanggal 9 muharam, seluruh bangunan tabot berbentuk keranda berdiri ukuran besar diarak menuju lapangan merdeka dan disandingkan untuk dibuang keesokan harinya di makam Imam Senggolo di Padang Karabela.

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bengkulu Rudi Perdana menjelaskan, prosesi ritual itu merupakan kegembiraan keluarga pewaris keturunan budaya tabot, untuk mengiringinya, pemerintah Provinsi Bengkulu juga menggelar kegiatan Festival selama 11 hari pada tanggal 13 hingga 24 Oktober 2015 yang dipusatkan di lapangan View Tower Kota Bengkulu dan menggelar beragam lomba unik, diantaranya lomba tabuh dhol, lomba menari dengan boneka berbentuk ikan serta lomba lampion raksasa.

“Kita kemas Festival Tabot sebaik mungkin, sebab kegiatan ini sudah masuk dalam kalender event nasional. dalam kegiatan puncak nanti sedikitnya ada 5 duta besar negara sahabat yang kami undang diantaranya Turki, Iran, Palestina, Malaysia dan Saudi Arabia,” terang Rudi Perdana. (Yuliardi Hardjo Putro)

TINGGALKAN KOMENTAR