RIZALDI SIAGIAN & SLAMET WIDODO-satuDua seniman, yakni Rizaldi Siagian dan Slamet ‘Mamiek’ Widodo, yang berbeda latar belakang bertemu dalam  sebuah karya kolaborasi mereka pada Album “KEHIDUPAN: Dalam Ekspresi Teater Bunyi”. Kolaborasi dalam visual grafis juga terdapat pada album ini, yang  di desain oleh GataMahardika. Peluncuran album ini digelar di kawasan Kemang, Senin (9/3/2105),

Penulis puisi Slamet   Widodo kembali berkolaborasi dengan etnomusikolog dan komposer/arranger Rizaldi Siagian, kali ini dalam suguhan karya musik artistik yang padat nuansa relevansi sosial.

Mamiek menulis puisi bertema lingkungan, protes sosial, kemanusiaan, antaralain dengan basis anti drugs, penolakan perlecehan hak anak, sementara Rizaldi memusikalisasi ‘puisi mbeling’ itu. Sejatinya tak mudah mempertemukan 2 manusia langka ini dalam proses kreatif bermusik, mengingat Mamiek berlatar belakang pengusaha properti, sastra adalah hobinya, sementara Rizaldi adalah seniman sejati, yang cinta akan keindahan dan kekayaan budaya etnik di Nusantara ini.

Atas nama persahabatan dan paham saling menghormati, Rizaldi berani memaksa Mamiek menyerahkan sejumlah puisinya yang kaya tema bahasan, punya relevansi sosial, sehingga bisa menantangnya memusikalisasi puisi Mamiek, apalagi jika digarap dengan instrumen musik etnik dari banyak daerah di Indonesia. Atas nama persahabatan pula, Rizaldi berani memaksa Mamiek membaca puisi, atau sedikit menyanyi. Dan atas nama persahabatan pula, Mamiek menyerahkan puisinya untuk ‘diapain saja’ oleh Rizaldi.

Maka, dengan modal saling mengerti itulah, Rizaldi mengajak sejumlah seniman, tua muda, lelaki perempuan, terutama dari wilayah musik daerah, untuk bekerjasama. Seniman itu adalah Prof. Rahayu Supanggah, penyanyi dan penembang Peni Candrarini, Dharsono, novelis dan aktris Jenar Mahesa Ayu, Masri Ama Piliang gitaris yang “kenyang” pengalaman di dunia entertainment. Mamiek sendiri menyerahkan tembang mocopatan karya Ibunya, Eyang Artini, untuk disulap menjadi tembang berjudul ‘Hidup’ yang menjadi penuh nuansa musik gamelan Jawa.

Karya kolaborasi Slamet Widodo dan Rizaldi Siagian ini sejatinya mulai dibukukan dalam sebuah rekaman sejak tahun 2006, tapi baru akhir tahun 2014 terfikir buat dimasukkan dalam album kompilasi, itupun lebih keras didorong peredarannya, setelah Rizaldi Siagian menerima Anugerah Seni dari Kemendikbud, juga gara-gara ada karya kolaboratif Mamiek dan  Rizaldi berjudul ‘Hutanku Meratap’, sebuah karya bersama yang telah mendapatkan penghargaan Internasional sebagai referensi.

Rizaldi menyebut karya bersama ini sebagai Teater Bunyi, wadah Rizaldi mengeksplor kemampuannya memainkan beragam alat musik etnik dari Batak Toba, Batak Karo, Dayak, Bali, sampai dawai Melayu, Maka, awal tahun 2015 ini, album Teater Bunyi yang berisi lagu-lagu dengan pesan moral pesan sosial   berjudul ‘Hidup’, ‘Budi Dingklang dan Anjingnya’, ‘Sebungkus Sabu dan Perempuan Lugu’, ‘Hutanku Meratap’, ‘Kawin Muda’ (yang ini hasil rekaman penampilan live), ‘Jangan Biarkan Kekerasan Itu Terjadi’ (lagu tentang pengebirian hak anak), siap edar. Bahkan dirancang akan dipentaskan secara live.

Semoga karya kolaborasi Mamiek dan Rizaldi ini akan menjadi bagian dari Revolusi Mental yang lahir lewat karya musisi dan sastrawan  Indonesia. Tuhan memberkati. (gr)

Foto ilustrasi (ist)

TINGGALKAN KOMENTAR