MEDAN – Setelah 15 tahun tak manggung, aktor Burhan Folka (Burhan Syarif) kembali menggetarkan jadad dunia perteateran di kota Medan. Lewat naskah ‘Bahayanya Tembakau’ karya Anton P Chekov, yang digelar, Jumat (28/8/2018) membuat kebukuan panggung Taman Budaya Sumatera Utara menjadi cair.

Bermain watak menjadikan pementasan yang dikemas Bengkel Monolog yang gagasan oleh Porman Wilson Manalu tersebut memukau penton yang menyaksikannya dalam durasi 30 menit. Kerinduan pecinta tontonan monolog yang bermutu pun terpenuhi malam itu.

Meski sudah gaek, dalam usia 65 tahun, Burhan mampu bermain dengan irama cepat. Dengan musik yang menawan juga menjadi penyedap pertunjukan dengan mengambil situasi asli Rusia. Segar tidak badutan membuat kita serasa disuguhkan vodka dingin nan menyejukkan hati.

Tampilnya aktor Burhan Folka kembali, layak diapresiasi lebih, tidak saja bagi seniaman teater, tapi juga pemerintah Medan dan Sumatera Utara, tentang dedikasi seorang seniman teater yang konsisten di bidangnya.

Dalam tahun 70-an dan 80-an, sosok Burhan Folka adalah maknit bagi dunia teater di Sumatera utara. Betapa tidak, sosok Burhan Folka punya penonton sendiri. Tapi, setelah 15 tahun berlalu, tampilnya dalam ‘Bahayanya Tembakau’ aktingnya masih seger, meski nafas dan stamina tidak seperti 20 tahun lalu.

Bagi new aktor Medan, maka layaklah belajar dari dedikasi Burhan Folka. Sebab, untuk menjadi seorang aktor cukup sulit dan melewati proses latihan serta dedikasi yang konsisten.

Kini Burhan Folka sudah kembali. Cukup disayangkan, pelakon dan seniman tetaer zaman now tak banyak yang hadir dalam pementasan yang jarang terjadi setelah lebih dari 25 tahun. Pelaku teater zaman now sebaiknya, dapat memetik pengalaman dari sosok Burhan Volka.

Setidakntya, tampilannya Burhan Folka, sebuah kepedulian kalangan teaterawan zaman old terhadap kondisi teater zaman now di Medan.

Belum terlalu penting agaknya membicarakan tehknis tehknis pertunjukan yang diperankan Burhan Volka. Sebab kita tahu semestinya Burhan Folka bisa beracting jauh lebih bagus lagi dari apa yang disuguhkannya malam itu.

Maka tak usahlah membicarakan bagaimana sulitnya Burhan Folka mengangkat ritme permainan, maka tak usahlah dulu membicarakan bagaimana kesulitannya dia menjaga irama permainan agar penonton terhibur.

Ini peristiwa teater kawan. Ini teater kita. Dan kita melihat bagaimana Burgan Folka terengah engah mengusung ini semua. Apakah beliau sudah makan, saat berakting? Mungkin kita tak layak bertanya hal itu. Tapi ini peristiwa teater yang dilakoni seorang aktor zaman old. (ayub badrin/gr)

TINGGALKAN KOMENTAR