Silaturahmi Seni Institut Kesenian Jakarta 2015 (ist)

DI Institut Kesenian Jakarta (IKJ), pada waktu ini, bila menengok kepada A Kasim Achmad, maka akan menjadi sumber yang tak ada habis-habisnya, sabar, dan tekun. Sosoknya jadi guru yang selalu membuat kita berfikir kembali tentang seni teater tradisi.

Silaturahmi Seni Institut Kesenian Jakarta 2015 (ist)
Silaturahmi Seni Institut Kesenian Jakarta 2015 (ist)

Demikian pernyataan Dr.Wagiono Sunarto M.Sc, Rektor Institut Kesenian Jakarta dalam testimoninya disela kegiatan Silaturahmi Seni kerjasama Institut Kesenian Jakarta dengan Kemendikbud RI dalam rangka temu kangen bersama tokoh dan pemerhati teater tradisional A Kasim Achmad, di Galeri Nasional, Jalan Medan Merdeka Timur No. 14, Gambir, Jakarta, Rabu (11/11/2015)

Turut hadir A Kasim Achmad, Ibu Edi, Pak Mudji, Pak MJ Maryadi, Pak Amoroso Katamsi, Bu Eli, Pak Yacob, para Dosen Teater, Seni Rupa, dan kawan-kawan mahasiswa Institut Kesenian Jakarta berbagai jurusan.

Dijelaskannya bahwa malam ini kita bersama-sama berkumpul disini karena ada Pak Kasim. Pak Kasim adalah seorang guru sejati, guru bukan sekedar mengajar didepan kelas, tetapi terutama juga guru seterusnya sesudah mahasiswa lulus menjadi alumni tetap belajar dan mendapat banyak petuah dan ilmu dari beliau dan selalu siap memberikan bimbingan kepada siapapun, murid ataupun bukan, berbagi pengetahuan, mendiskusikan berbagai hal yang berkaitan dengan ilmu teater baik tradisi maupun modern, dan masalah kesenian umum Indonesia.

“Mungkin hal yang sangat kita kesankan tentang Pak Kasim adalah bukan saja teater teater tradisi, tetapi teater modern pun Pak Kasim sangat paham dan saya sangat yakin karena beliau adalah dosen di jurusan teater tetapi sebetulnya imej kita tentang Pak Kasim adalah orang yang mempertahankan, memperhatikan, dan membela teater tradisi,” jelasnya.

Kita yang berada di kota besar dalam pesona terhadap ala modern dan kemajuan, lebih-lebih di tahun 70-an pada waktu itu bahwa kita tergoda untuk mengembangkan teater-teater baru, naratif baru, juga seni-seni baru yang lainnya seperti seni rupa, seni musik, dan film yang kemudian berfikir bahwa sudah waktunyalah untuk meninggalkan yang  lama.

“Hal itu bukan saja terjadi pada mahasiswa, tetapi para dosen-dosen muda,” tegasnya.

Kita lupa bahwa kita punya sejarah panjang tentang teater rakyat atau seni-seni tradisi lain baik itu seni visual, seni musik, seni gerak, seni tari, dan juga termasuk seni teater. Dan mungkin pada waktu itu di alam seni tradisi kita tidak terlalu memisah-misah secara tajam menjadi program studi kalau belajar ini tidak belajar itu dan sebagainya. maka hal itu mengalir saja dan di kehidupan yang sesungguhnya teater itu menyuarakan realitas hidup yang sesungguhnya.

“Apapun itu bentuknya, dan teater rakyat justru sebetulnya memberikan kita bacaan tentang apa yang terjadi sesungguhnya di alam pikiran dan apa yang mereka hadapi sehari-hari,” ungkapnya.

Kita juga lupa bahwa dengan mempelajari seni teater tradisi kita bisa beri dimensi yang lebih kaya dan membumi pada pertunjukan kita secara umum artinya juga termasuk yang modern. Bahwa dimana-mana orang selalu kembali lagi menengok kepada jati diri dan kita berasal dari mana.

“Kita lupa bahwa seni modern harus berpijak dan berakar pada realitas seni yang sesungguhnya dan pemahaman juga referensi mengenai teater tradisi merupakan pelajaran yang sangat berharga,” katanya. (ziz)

TINGGALKAN KOMENTAR