by

69 Tahun Hari Film Nasional di Medan Dirayakan Dengan Film Indie

MEDAN – Hari Film Nasional Indonesia ditetapkan pada 30 Maret dan pada tahun 2019 ini terhitung sudah 69 Tahun berdasarkan satu karya penting dari tokoh perfilman Indonesia, almarhum Usmar Ismail yang berjudul ‘Darah dan Doa’.

Film ini tidak terlalu banyak dikenal oleh penikmat film Indonesia. Film tersebut menurut Wari Al Kahfi (personil dari Layar Indie Project, LIP) syutingnya dilakukan di Subang, Jawa Barat dan terkait dengan situasi kolonial. Mungkin karena pemutarannya waktu itu diutamakan di Istana Negara, mungkin pengenalan atas film tersebut secara umum hanya memicu sejarah perfilman di Indonesia.

example banner
Wartawan dan tokoh teater Medan Ayub Badrin saat berikan tanggapannya (ist)

LIP menjadi pelaksana dalam perayaan di Medan untuk Hari Film Nasional 2019 dan dilangsungkan di depan Gedung Pameran Taman Budaya Sumatera Utara (TBSU) pada 30 Maret 2019 dengan pemutaran 3 judul film. Sebelumnya dalam informasi ketiga judul film termasuk ‘3 Nafas Likas’. Namun pemutarannya tidak terjadi karena terkait dengan masalah izin dari produser film tersebut.

Kelihatannya film yang berlatar biografis Mayjen Jamin Gintings itu sudah pernah diputar di bioskop di Medan. Namun kabarnya tidak begitu banyak ditonton oleh orang Medan sendiri. Lalu ketika film layar lebar itu ditonton secara gratis, apakah penontonnya akan banyak?

Foto: Thompson Hs. (ist)

Tentu saja, satu alasan yang ingin dilihat beberapa penonton yang datang pada pemutaran film 3 judul film di TBSU. Malahan kedengarannya salah satu pemeran dalam film tersebut sengaja hadir. Namun akhirnya hanya duduk di kursi menonton dua film pendek atau Indie dan mendengar diskusinya sebelum satu film pengganti berjudul: ‘Komandan Jhon Tor’. Film yang disutradari oleh Robby Saputra itu berdurasi sekitar 10 menit dengan dua potongan dalam bentuk episode.

Episode Pertama dengan judul ‘Laporan Palsu’. Sedangkan Episode Kedua dengan titel ‘Cinta Harus diperjuangkan’. Setting kerja lapangan kepolisian itu dibuat dengan nuansa humor. Komandan Jhon Tor mengarahkan anak buahnya ke suatu lokasi yang mencurigakan, bekas bangunan yang atap dan semua kosen pintu dan jendela sudah tak ada. Yang terlihat di sana mewarnai pencarian adalah mural-mural di tembok. Lokasi itu kalau tak salah ada di sekitar Jalan S. Parman Medan, yang pernah dijadikan sejumlah perupa muda Medan dengan nama grup Skala untuk pameran perdana setelah Galeri Tondi dan pemiliknya ke Inggris.

Susana diskusi film di Taman Budaya Sumatera Utara, Medan. (ist)

Humor di Episode Pertama ‘Komandan Jhon Tor’ adalah pertanyaan yang tertulis dari seorang lebay di lantai atas bekas bangunan itu. Pertanyaan itu dalam bahasa Inggris: Will You merri Me? Tentu saja itu menghibur sejumlah penonton kemudian dengan cerita Komandan Jhon Tor yang tidak jadi bunuh diri dalam episode kedua karena ditolak pacarnya.

Film ini memang betul untuk selera humor saja, di samping mengandung perkembangan informasi atas berita penolakan ojek-online. Kalau dimaknai dengan film “Pohon Terkenal” yang baru-baru ini diputar di sebuah bioskop di Medan, soal kepolisian memang dapat menjadi sesuatu yang menarik untuk diangkat ke dalam film. Wari Al Kahfi juga menjadi salah satu pemeran dalam film ‘Komandan Jhon Tor’.

Film ‘Wonderkid’ dan ‘Mauliate’

Itulah dua film sebelumnya yang diputar dan menjadi bagian dari diskusi. ‘Nonton Bareng dan Diskusi’ merupakan ciri kegiatan dari LIP Medan. Namun tujuan komunitas tersebut bukan sekedar melakukan diskusi dan eksebisi setiap minggu keempat per bulan, Namun dengan pangkalan data terkait film Indie bertujuan membuat festival film karya-karya anak Medan atau yang berlokasi syuting di Sumatera Utara.

Film ‘Wonderkid’ (sutradara M. Sofiyarno) dan ‘Mauliate’ (Ghaly B) adalah dua film dengan beberapa lokasi di Medan dan sekitar Danau Toba serta merupakan empati dan simponi kecil kalau disimpulkan. ‘Wonderkid’ sebuah film dokumenter tentang Meran Antonius Situmorang, seorang anak yang diajari ayahnya menjadi untuk berprestasi sebagai pesepak bola di kalangan anak-anak. Meran Situmorang terakhir diundang ASIFA, sebuah lembaga sepak bola di Korea karena kemampuan dan prestasinya. Film tersebut dibuat selama setahun dengan kamera HP dan Canon 1200D.

Ngobrol film di Taman Budaya Sumatera Utara. (ist)

Gambarnya memang tidak begitu ‘bersih’. Tapi empati yang ingin digambarkan sudah cukup memberikan keberhasilan. Empati itu dilakukan atas dorongan seorang seorang pemilik pembuatan video klip terbaik di Jakarta, Bandar. Lalu M. Sofiyarno melakukan eksekusinya setelah proses diskusi kepada objek film dokumenternya.

Film ‘Mauliate’ dengan kesan ingin bersimponi mengekplor beberapa dialog dengan dialek Batak Toba pada bagian-bagian masa lalu seorang adik dengan kakaknya yang diceritakan simpulnya dengan pembacaan satu puisi di sekolah. Si adik dengan mengingat kakaknya yang sudah meninggal karena penyakit tertentu merasa brsyukur dengan kehidupannya yang berbeda. Syuting film ini menurut pengakuan salah satu pemerannya, Gynee, dilakukan selama lima hari di beberapa lokasi (Holbung, Tele, air terjun Efrata, Bukit Beta Tuktuk, Medan) dengan teknik eksperimen juga.

Namun tim untuk film itu kelihatannya memiliki perhatian terhadap potensi warna lokal dan kultur di Sumatera Utara. Salah satu film mereka yang diikutkan dalam festival menangkat warna lokal Jawa dan tidak kebetulan disinggung oleh salah satu juri, Dokter Dahnil, yang hadir dalam kesempatan itu sekaligus dengan promosi desain 8 seri film yang mengangkat super-hero seperti Satria Dewa Gatot Kaca, yang baru saja dilaunching.

Tiga film yang ditayangkan oleh LIP dalam perayaan 69 Tahun Hari Film Nasional masih bisa dinikmati esok hari, 31 Maret 2019 mulai pukul 14.00 dengan penayangan 4 film secara berbayar di Wesley House Jalan Sei Sirah No. 12 Sei Kambing Medan. Tempat dan ruang itu masih dapat menampung penonton sampai 100 orang, menunggu terwujudnya sebuah ‘Bioskop Indie’ di kota Medan yang dipersiapkan dan dikonsolidasikan dari setidaknya 1.000 followers melalui online LIP.

Acara pemutaran film 69 Tahun Hari Film Nasional di Medan berlangsung atas kerjasama dengan Komunitas Film Taman atau Kofi melalui salah satu penggeraknya, Ayub Badrin, yang mengharapkan insan film di Sumatera Utara dapat terus meningkatkan kerjasama dan jaringan kepada pelaku kesenian lainnya untuk membangkitkan perfilman Sumatera Utara yang pernah menjadi salah satu barometer dalam perfilman nasional. (gr)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed