Foto: Andi P Hutagalung saat shoting film dokumenter. (ist)

JAKARTA (Gapuranews.com) – Sebanyak 56 pegiat budaya yang gagal dikirim ke Selandia Baru menilai pihak Kemendikbud telah melakukan pembohongan publik. Seharusnya 56 seniman itu berangkat pada 21 Agustus hingga 9 September 2016, namun sampai sekarang belum diberangkatkan.

“Intinya kita 56 pegiat budaya 2016 yang tak jelas mau diberangkatkan atau tidak sangat kecewa kepada panitia penyelenggara. Sebenarnya bukan kecewa nggak diberangkatkan ke Selandia Baru, tapi kecewa terhadap kinerja dan tanggung jawab sekelas Kementerian lembaga tinggi negara membuat pembohongan publik,” kata penggiat film dokumenter dari Sumatera Utara, Andi P. Hutagalung, saat dihubungi, Rabu (7/9/2016).

Menurutnya, pegiat Budaya 2016 yang lolos diwajibkan menandatangani perjanjian bermaterai untuk tidak mengundurkan diri dan mematuhi peraturan penyelenggara setelah diterima sebagai peserta yang lolos.

“Inilah yang membuat kami sangat kecewa berat. Apalagi niat baik yang tak kunjung datang untuk pemberitahuan sampai tanggal 18 Agustus baru surat dari Dirjend kebudayaan datang minta maaf karena pengunduran jadwal atau apalah itu,” katanya.

Tapi yang disayangkan lagi, lanjut sutradara film dokumenter ‘Permata di Tengah Danau’ ini, surat itu keluar karena atas desakan wakil peserta yang lolos ketemu degan Dirjend Kebudayaan di pembukaan Art Summit di Jakarta.

Dan satu lagi niat baik juga tidak datang dari penyelenggara untuk mempublis info pengunduran atau tak jadinya kegiatan tersebut ke pada publik, di website mereka atau media lainnya, mereka hanya mengirim surel/email perindividu peserta.

“Maka dari itu kita berupaya untuk minta pertanggung jawaban penyelenggara atas ketidak pastian ini. Karena semua peserta sudah mengosongkan jadwal kegiatan karena surat bermaterai tersebut. Apakah budaya tak bertanggung jawab ini yang akan diwariskan kepada kita semua?” tegasnya. (gr)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here