Foto: Adegan film 'Setan Jawa' (ist)
loading...

JAKARTA (Gapuranews.com) – Garin Nugroho (54) memang bukan sineas yang karya filmnya bisa komersil atau film box office, tapi sosok sutradara dilm ‘Daun Di Atas Bantal’ dan ‘Cinta dalam Sepotong Roti’ telah memberi ‘warna’ dalam perfilman nasional.

Garin pun kini kepincut dengan  film hitam putih bisu. Lewat film ‘Setan Jawa’, Garin Nugroho ingin mengatakan bahwa film hitam putih dan bisu pun bisa mengekspresikan karya sebagaimana film di era tahun 1920-an. Padahal sineas negeri ini sibuk dengan dunia digital, Garin malah ‘bermain’ dengan film bisu hitam putih berjudul Setan Jawa. Film ini persis seperti awal Lumière bersaudara saat temukankannya gambar bergerak sabagai cikal bakal penemuan film.

Film hitam putihnya Garin ini, sekaligus menandai 35 tahun berkarya di industri film. Garin Nugroho didukung oleh Bakti Budaya Djarum Foundation mempersembahkan Setan Jawa, sebuah film bisu yang mengangkat mitologi Jawa dan menyesuaikannya dalam film tari kontemporer yang terinspirasi oleh karya Friedrich Wilhelm Murnau, Nosferatu. Yang spesial, perilisan film Setan Jawa di Jakarta akan menjadi special preview sebelum diputar world premier di Opening Night of Asia Pacific Triennial of Performing Arts di Melbourne, Februari 2017.

Setan Jawa merupakan film bisu hitam putih pertama karya Garin Nugroho yang akan diiringi dengan orkestra musik gamelan secara live yang dibuat oleh Rahayu Supanggah dan akan diputar perdana pada tanggal 3 dan 4 September 2016 di Gedung Teater Jakarta.

Bercerita tentang kisah cinta dan tragedi kemanusiaan dengan latar waktu awal abad ke-20. Setio, seorang pemuda dari desa miskin jatuh cinta dengan Asih, seorang putri bangsawan Jawa. Lamaran yang ditolak membuat Setio mencari keberuntungan melalui kesepakatan dengan iblis yang dikenal sebagai ‘Pesugihan Kandang Bubrah’ untuk mencari kekayaan dan nantinya dapat melamar Asih. Setio akhirnya menjadi kaya dan kawin dengan Asih, mereka hidup bahagia dalam rumah Jawa yang megah.

Asih kemudian mengetahui bahwa suaminya menjalani laku pesugihan kandang bubrah. Asih yang sangat mencintai suaminya kemudian menemui setan pesugihan. Asih meminta pengampunan pada setan agar suaminya pada saat kematiannya tidak menjadi tiang penyangga rumah.

Film bisu ini dikisahkan pada awal abad ke-20, selaras dengan waktu tumbuhnya film hitam putih sekaligus merebaknya fashion, sastra dan berbagai bentuk seni hiburan di puncak kolonialisme Belanda. Namun film ini bukanlah drama sejarah, tetapi waktu sejarah dalam film ini adalah bingkai referensi dalam Setan Jawa. Era kolonial awal abad ke-20 adalah era pengembangan industrial disertai pengembangan infrastruktur bertumbuhnya gerakan nasionalisme dan juga identitas manusia Jawa yang terepresentasikan pada kehidupan sehari-hari, seni, bahasa dan juga mistik. Pada era ini, mistik Jawa tumbuh seiring tumbuhnya theosofi, sebuah gerakan religiusitas berbasis harmoni beragam perspektif kepercayaan. Dalam konteks ini, jalan pesugihan menjadi populer untuk meraih masa depan lebih baik sekaligus sebagai mobilitas sosial dalam dunia baru yang penuh tekanan.

Setan Jawa merupakan proyek kolaborasi antara Garin Nugroho dan Rahayu Supanggah yang dipertemukan kembali setelah 10 tahun yang lalu berkolaborasi dalam proyek ‘Opera Jawa’. Rahayu Supanggah, seorang seniman musik yang telah dan masih memperkenalkan dan mempopulerkan musik gamelan Jawa ke masyarakat dunia selama lebih dari 40 tahun, akan menampilkan sebuah orkestra gamelan yang akan mengiringi film bisu hitam putih karya Garin, dibawakan secara langsung dengan 20 pengrawit (pemusik gamelan). Film ini juga akan menampilkan Asmara Abigail sebagai Asih, Heru Purwanto sebagai Setio dan Luluk Ari sebagai Setan Jawa. (gr)

TINGGALKAN KOMENTAR