SEDIKTNYA 50 seniman tampil dalam pameran seni rupa menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-33. Pameran bertanjuk “Matja: Seni Wali-wali Nusantara” digelar di Jogja National Museum (JNM) Yogyakarta, Senin-Kamis (30/7/2015).

Seni-Islam-Kontemporer
Foto Ilustrasi (ist)

Menurut Hasan Basri, Panitia Pameran Seni PraMuktamar NU ke-33 mengatakan, selama ini seni Islam, hanya berkutat pada jafin, nasyid, hadrah, al-banjari, khasidah, dan qiroah Alquran. Padahal seni yang diwariskan Wali Songo, para penyebar agama Islam di nusantara dan para penerusnya adalah seni nusantara yaitu seni pertunjukan, seni kriya, seni suara, seni musik, dan seni sastra.

Seni pertunjukan seperti  wayang purwo, wayang krucil, wayang golek, wayang tengul, kentrung, jemblung, genjring, jathilan, reog, debus, sintren, sadur.

Sedang kesenian lainnya, seni kriya, meliputi seni ukir, sungging, wafak, tatah, batik, tenun, sulam. Seni suara, tembang, mocopat, si’iran, kidungan, uro-uro. Seni musik meliputi gamelan, rebana, abgklung, jidor, gambang, kendang, kempul, gegung. Seni sastra seperti sastra suluk, serat, babat, carita, dan hikayat.

Pameran seni rupa, kata Hasan Basri, merupakan upaya untuk menghadirkan kehangatan hubungan antara Islam dan seni. “Pameran ini dihadirkan sebagai ekpresi dan impresi berkesenian yang terkait dengan tradisi berkesenian Islam Nusantara yang menempatkan kesenian sebagai asas kemasyarakatan. Seni sudah menyatu dalam ritme hidup keseharian masyarakat Indonesia,” kata Hasan.

Karya-karya yang ditampilkan, lanjut Hasan, tidak terbatas pada lukisan jenis kaligrafi, lukisan dekoratif dengan ragam hias Arabesque, lukisan geometrik, dan lukisan abstrak. Tetapi pameran lebih beragam secara material maupun konsep, kritis, satir, dan membawa pesan kuat.

Pameran akan dibuka H Marwan Ja’far, Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, Senin (27/7/2015) pukul 19.00. Pembukaan akan dimeriahkan performance of art oleh Heri Dono feat Wiwiek Poengki Art Fashion. (gr/ro)

Foto Ilustrasi (ist)

TINGGALKAN KOMENTAR